Senin, 09 Oktober 2017

Inilah Saya bagi keluarga dan kontribusi yang telah, sedang dan akan saya berikan untuk Indonesia

Saya Adhe Rizky Fauzan, seorang kakak dari tiga bersaudara dan anak pertama dari kedua orangtua yang luar biasa. Saya adalah sosok panutan bagi kedua adik saya dan harapan bagi kedua orangtua saya untuk membawa keluarga kecil ini menjadi lebih baik. Pada tahun 2015, saya lulus dari SMA dan tidak berkuliah karena keterbatasan ekonomi keluarga. Satu tahun tidak mengenyam pendidikan formal, saya mencari jalan keluar bagaimana caranya saya bisa berkuliah tanpa harus membebani kedua orangtua dengan kondisi ekonomi yang sekarang. Saya berinisiatif untuk bergabung dengan komunitas pemuda, Youthcare International. Di komunitas ini saya belajar banyak tentang public speaking, leadership, dan bagaimana menjadi seorang entrepreneur. Menjadi seorang trainer dan mentor ranah remaja hingga merintis bisnis sampai mencapai omset 100 juta di 3 bulan pertama.
            Selama berada di komunitas Youthcare, saya belajar banyak tentang dunia pendidikan dan bagaimana remaja memiliki peran penting sebagai sosok kunci yang mampu merubah generasi masa depan. Pendidikan begitu penting karena menjadi tolok ukur maju tidaknya suatu negara. Dengan sumber daya manusia yang selaras memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki di suatu negara. Inilah yang melatarbelakangi saya untuk membuat keputusan berkuliah di jurusan Manajemen Pendidikan UNJ di tahun berikutnya. Dengan bermodal uang yang saya dapatkan dari berbisnis, saya berkuliah untuk memperdalam pengetahuan saya di dunia pendidikan. Selama satu semester berkuliah, saya bersyukur bisa jajan, membayar kuliah dengan uang sendiri, dan sedikit membantu ekonomi kedua orangtua saya.
            Pada semester kedua, fokus saya terbagi antara bisnis dengan agenda dan tugas kuliah. Saya memutuskan untuk memprioritaskan kuliah dan meninggalkan bisnis yang saya jalani. Sedikit demi sedikit uang saya habis dan mulai keberatan untuk membayar ukt semester selanjutnya. Pada liburan semester, saya memutuskan untuk mendaftar kerja di rental mobil dan menjadi driver taksi online. Selama dua bulan pertama, saya berhasil untuk mengumpulkan uang untuk membayar ukt dan membayarkannya. Di bulan berikutnya, ketika saya sedang bekerja di jalan, saya terkena musibah penipuan dengan total kerugian 35 juta rupiah. Uang tersebut adalah uang orang lain yang dititipkan kepada ibu saya. Pada saat kumpul keluarga besar, saya menjelaskan peristiwa yang terjadi dan bersedia bertanggung jawab untuk mengganti kerugiannya.
            Di awal perkuliahan semester tiga, saya merasa keberatan mengimbangi antara bekerja sebagai driver taksi online dengan menjadi mahasiswa. Saya tidak sanggup untuk menyetorkan setoran mingguan sampai akhirnya saya putuskan untuk berhenti bekerja dan fokus melanjutkan perkuliahan. Dengan kondisi ekonomi keluarga saya yang tidak stabil ditambah hutang uang keluarga yang harus saya lunasi menjadi tantangan saya tersendiri ketika juga harus siap untuk membayar ukt semester berikutnya. Saya sangat berharap untuk tetap bisa melanjutkan kuliah dan lulus. Untuk selanjutnya menjadi agen perubahan di sektor pendidikan. Berkontribusi bagi negeri dengan berperan sebagai seorang pendidik. Mendirikan sekolah dengan kurikulum yang memanusiakan manusia. Membimbing peserta didik untuk mengetahui passion mereka dan siap untuk berkontribusi sesuai peran yang dibutuhkan ketika lulus.
            Menurut saya, pendidikan adalah yang utama. Melihat prediksi di tahun keemasan Indonesia, pada tahun 2045 adalah momentum bonus demografi, dimana usia produktif mendominasi dan menjadi generasi penentu nasib bangsa Indonesia. Ini yang menjadi motivasi terbesar saya untuk terus menggali dunia pendidikan. Berharap bisa menjadi pendidik yang menghasilkan generasi unggul yang memimpin Indonesia kedepan. Pemuda adalah asset terpenting, maka dari itu peran pendidikan sangat krusial sebagai sistem yang membentuk karakter mereka. Pembenahan di sektor pendidikan sangat penting untuk dilakukan khususnya pada kualitas guru yang mengajar. Guru adalah tauladan, seorang role model bagi anak didiknya. PR untuk mewujudkan Indonesia emas di tahun 2045 tidak hanya dibebankan kepada generasi pemuda sekarang, namun juga oleh siapa mereka dibentuk dan dibina.