Selasa, 23 Agustus 2016

Membangun Pendidikan Berkarakter

Adhe Rizky Fauzan
1445165350
#MPAMPFIPUNJ2016

Seperti artikel saya sebelumnya, bahwa pendidikan bukan sekadar sekolah dan kuliah, lebih dari itu pendidikan adalah cita-cita, manifestasi kehidupan yang pantas diperjuangkan. Pendidikan itu diselaraskan seperti apa yang Tuhan maksud (dari lahir sampai liang lahat). Pendidikan juga mencakup seluruh disiplin ilmu yang menopang kehidupan dan peradaban.
            Pendidikan itu tidak dibatasi tempat dan waktu. Tidak dibatasi sekat kelas dan usia. Pendidikan adalah kita dan semesta dengan perantara-perantara alat bantu kita dan sekitarnya. Mulai dari sadar diri, sadar akan potensi diri, sadar akan alasan keberadaan kita, diciptakannya kita. Disinilah ilmu itu dimulai. MENGENAL DIRI. Juga lingkaran nasib, tentang peta kehidupan yang berputar, bahwa kita hidup sejatinya mengulang siklus, dengan berbagai digerensiasi disana sini.
            Untuk membentuk pendidikan yang berkarakter, empat pilar utama harus kita jaga. FAITH, melingkupi keimanan, hal yang paling sakral. Kepercayaan kita pada Tuhan dan segala ibadah didalamnya. Keimanan menjadi pilar utama. Karena energi iman adalah energi Tuhan.Disanalah harapan besar segala yang kita usahakan dalam naungan Tuhan dan masih dalam rangka mengabdi pada Tuhan. Dengan berpondasi keimanan, hati kita akan selalu terjaga ketenangan dan kedamaian dalam proses belajar mengajar. Mencapai titik kebebasan pribadi seorang insan.
            ETHIC, mencakup etika, sikap kita dalam berperilaku. Tentang norma dan kemanusiaan. Menitikberatkan pada nilai-nilai yang ada. Tentang bagaimana kita menghargai satu sama lain, menyayangi satu sama lain, dan menghomati satu sama lain. Attitude, sikap yang menentukan komponen menuju pendidikan berkarakter haruslah berselaras dengan cinta. Rasa cinta yang menumbuhkan kepedulian untuk saling menopang dan menutupi kekurangan satu sama lain.
            LEADERSHIP, disini banyak hal menjadi perhatian. Mulai dari jiwa kepemimpinan,baik pribadi maupun sosial. Juga wawasan, serta kapasitas diri. Leadership bukan menyoal posisi dan kepemimpinan, tapi lebih dari itu. Kapasitas seorang pelajar dalam karya dan kontribusi bertitik tolak di pilar ini. Jiwa kepemimpinan yang melekat erat akan membuahkan hasil nyata yang kontributif terhadap apa yang ia jalani. Seorang pelajar yang memiliki jiwa kepemimpinan akan memberikan pengaruh, sebuah pedal yang menggerakkan roda-roda disekitarnya, menuju sebuah visi pendidikan yang berkarakter.
            ENTREPRENEUR, ini pilar terakhir. Pilar pendukung yang sangat penting. Kematangan dan kemandirian seorang pelajar dari sisi finansial menjadi perhatian penting bagi tiap-tiap komponen masyarakat. Berusaha membebaskan diri dari masalah keuangan. Bayangkan ketika seluruh bibit-bibit pemimpin masa depan ini hanya memiliki visi untuk dirinya sendiri. Uang menjadi tujuan akhir dari kehidupannya. Uang, harusnya menjadi sebuah cara dari visi yang besar. Bersekolah tak sekadar mencari ijazah lalu mencari uang. Lebih dari itu, bersekolah adalah untuk meningkatkan kapasitas diri kita yang nantinya akan berguna untuk bisa memberikan kontribusi dan manfaat untuk negeri.
            Maka dari itu, peran Manajemen Pendidikan sangatlah krusial untuk menentukan arah pendidikan di Indonesia. Sebagai wadah peluang untuk perubahan visi yang besar, Manajemen Pendidikan mempunyai tanggung jawab yang besar sebagai salah satu pioniir yang melangkah untuk membawa Pendidikan Indonesia yang berkarakter dan berintegritas. Sebagai seorang mahasiswa tentunya menjadi sosok penentu penggerak visi besar yang tidak bisa dibuktikan dengan sekadar kata-kata. Namun aksi nyata yang menggerakkan seluruh komponen masyarakat menuju masyarakat yang madani bersama membentuk pendidikan yang berkarakter.

            Seorang mahasiswa harus menjadi sosok tauladan. Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi? Sebuah generasi akan terus bergulir dan melahirkan sosok-sosok baru. Tentang arah tujuan masa depan mereka tergantung role model yang mereka lihat. Sudah seberapa jauh kita memberikan tauladan yang baik untuk generasi yang lebih muda sangat menentukan keberhasilan generasi berikutnya. Termasuk bagaimana kita mempersiapkan mereka untuk menggantikan posisi kepemimpinan selanjutnya. Mempersiapkan ritual kaderisasi yang matang dengan memilih kader-kader yang tepat untuk memegang tongkat kepemimpinan yang akan membawa nasib generasi berikutnya. Karena pada hakikatnya, kita takkan bisa melakukan semua yang kita mau, ada batas waktu dan usia. Maka satu-satunya cara adalah mempersiapkan dan mempercayakan kepada generasi berikutnya untuk menjaga agar visi besar yang kita bangun tetap hidup selamanya.

Senin, 22 Agustus 2016

Kondisi Pendidikan di Indonesia


“Our greatest fear is not that we are inadequate. Our deepest fear is that we are POWERFUL BEYOND MEASURE. It is our light, not our darkness, that frightens us. We ask ourselves, who am I to be brilliant? Gorgeous, talented, and fabulous? Actually, who are you not to be? We were born to make manifest the glory of God within us. It’s in everyone. It’s just not in some of us, and as we LET OUR OWN LIGHT SHINE, we unconsciously give other people permission to do the same.” – Marriane Williamson.
Pertanyaan besar tentang bagaimana kita bisa berkontribusi bagi negeri. Tentang bagaimana kita bisa membuat perubahan besar. Tentang bagaimana kita bisa mewujudkan cita-cita besar negeri ini. Jawabannya adalah pendidikan. Namun jika melihat kondisi pendidikan negeri ini rasanya masih sangat nan jauh di mata sebuah keberhasilan. Sebuah kesimpulan dari sebuah jawaban mayoritas yang menganggap bahwa sekolah adalah penjara.
Sebuah penelitian telah mengungkap bahwa indeks kebahagiaan seseorang telah keluar/lulus dari sekolahnya sama dengan orang yang keluar dari penjara. Ada tiga tipe individu ketika berada di ruang kelas. Yang pertama Tipe TAHANAN, orang yang memiliki sifat ini merasa bahwa ketika dirinya berada di ruang kelas yang ia pikirkan adalah kapan ia bisa keluar. Jasadnya ada di dalam ruang kelas, namun jiwanya berada di tempat lain tidak berusaha menghadirkan diri.
Yang kedua Tipe BURONAN, sifat orang yang satu ini memiliki sifat yang unik dan paling di cari-cari. Mengikuti seminar yang kebetulan diselenggarakan di sekolah untuk menghindari pelajaran matematika di kelas. Berada di suatu tempat untuk lari dari tempat yang seharusnya ia berada. Yang ketiga Tipe BEBAS, ya bebas! Merasa bahwa belajar adalah sebuah kebutuhan. Tipe yang satu ini merasa tidak ada tekanan atau jenuh ketika berada di ruang kelas. Ketenangan hati dan jiwa dimiliki oleh karakter ini.
Andai saja jika seluruh pelajar di negeri ini bisa menjadi orang yang BEBAS, maka segala sesuatu yang mereka kerjakan akan menemukan titik keberhasilan, termasuk masa depan pendidikan negeri kita. Bagaimana caranya untuk menjadi orang yang bebas? EMPTY YOUR CUP. Bagaimana mungkin kita bisa mengisi gelas yang terisi penuh? TEACHABLE. Dapat diajar, apa yang diperintahkan maka sudah wajib untuk di patuhi, tentunya dengan kesadaran baik buruk perintah yang diminta.

Langkah selanjutnya adalah ACTION. Ketakutan terbesar kita bukan karena kita tidak mampu, tapi karena kita memiliki kekuatan di luar batas. “Knowing is Nothing, but Applying What You Know is Everything.” –Bruce Lee. Untuk membangun peradaban tak hanya dibutuhkan sebuah materi. Namun kesadaran untuk bergerak selangkah lebih maju. Pendidikan di negeri kita bukan sekadar sekolah dan kampus. Pendidikan Indonesia adalah sebuah cita-cita, manifestasi kehidupan yang pantas diperjuangkan.