Adhe Rizky Fauzan
1445165350
#MPAMPFIPUNJ2016
Seperti artikel saya
sebelumnya, bahwa pendidikan bukan sekadar sekolah dan kuliah, lebih dari itu
pendidikan adalah cita-cita, manifestasi kehidupan yang pantas diperjuangkan.
Pendidikan itu diselaraskan seperti apa yang Tuhan maksud (dari lahir sampai
liang lahat). Pendidikan juga mencakup seluruh disiplin ilmu yang menopang
kehidupan dan peradaban.
Pendidikan itu tidak dibatasi tempat dan waktu. Tidak
dibatasi sekat kelas dan usia. Pendidikan adalah kita dan semesta dengan
perantara-perantara alat bantu kita dan sekitarnya. Mulai dari sadar diri,
sadar akan potensi diri, sadar akan alasan keberadaan kita, diciptakannya kita.
Disinilah ilmu itu dimulai. MENGENAL DIRI. Juga lingkaran nasib, tentang peta
kehidupan yang berputar, bahwa kita hidup sejatinya mengulang siklus, dengan
berbagai digerensiasi disana sini.
Untuk membentuk pendidikan yang berkarakter, empat pilar
utama harus kita jaga. FAITH, melingkupi keimanan, hal yang paling sakral.
Kepercayaan kita pada Tuhan dan segala ibadah didalamnya. Keimanan menjadi
pilar utama. Karena energi iman adalah energi Tuhan.Disanalah harapan besar
segala yang kita usahakan dalam naungan Tuhan dan masih dalam rangka mengabdi
pada Tuhan. Dengan berpondasi keimanan, hati kita akan selalu terjaga
ketenangan dan kedamaian dalam proses belajar mengajar. Mencapai titik
kebebasan pribadi seorang insan.
ETHIC, mencakup etika, sikap kita dalam berperilaku.
Tentang norma dan kemanusiaan. Menitikberatkan pada nilai-nilai yang ada.
Tentang bagaimana kita menghargai satu sama lain, menyayangi satu sama lain,
dan menghomati satu sama lain. Attitude, sikap yang menentukan komponen menuju
pendidikan berkarakter haruslah berselaras dengan cinta. Rasa cinta yang
menumbuhkan kepedulian untuk saling menopang dan menutupi kekurangan satu sama
lain.
LEADERSHIP, disini banyak hal menjadi perhatian. Mulai
dari jiwa kepemimpinan,baik pribadi maupun sosial. Juga wawasan, serta
kapasitas diri. Leadership bukan menyoal posisi dan kepemimpinan, tapi lebih
dari itu. Kapasitas seorang pelajar dalam karya dan kontribusi bertitik tolak
di pilar ini. Jiwa kepemimpinan yang melekat erat akan membuahkan hasil nyata
yang kontributif terhadap apa yang ia jalani. Seorang pelajar yang memiliki
jiwa kepemimpinan akan memberikan pengaruh, sebuah pedal yang menggerakkan
roda-roda disekitarnya, menuju sebuah visi pendidikan yang berkarakter.
ENTREPRENEUR, ini pilar terakhir. Pilar pendukung yang
sangat penting. Kematangan dan kemandirian seorang pelajar dari sisi finansial
menjadi perhatian penting bagi tiap-tiap komponen masyarakat. Berusaha
membebaskan diri dari masalah keuangan. Bayangkan ketika seluruh bibit-bibit
pemimpin masa depan ini hanya memiliki visi untuk dirinya sendiri. Uang menjadi
tujuan akhir dari kehidupannya. Uang, harusnya menjadi sebuah cara dari visi
yang besar. Bersekolah tak sekadar mencari ijazah lalu mencari uang. Lebih dari
itu, bersekolah adalah untuk meningkatkan kapasitas diri kita yang nantinya
akan berguna untuk bisa memberikan kontribusi dan manfaat untuk negeri.
Maka dari itu, peran Manajemen Pendidikan sangatlah
krusial untuk menentukan arah pendidikan di Indonesia. Sebagai wadah peluang
untuk perubahan visi yang besar, Manajemen Pendidikan mempunyai tanggung jawab
yang besar sebagai salah satu pioniir yang melangkah untuk membawa Pendidikan
Indonesia yang berkarakter dan berintegritas. Sebagai seorang mahasiswa
tentunya menjadi sosok penentu penggerak visi besar yang tidak bisa dibuktikan
dengan sekadar kata-kata. Namun aksi nyata yang menggerakkan seluruh komponen
masyarakat menuju masyarakat yang madani bersama membentuk pendidikan yang
berkarakter.
Seorang mahasiswa harus menjadi sosok tauladan. Kalau
bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi? Sebuah generasi akan
terus bergulir dan melahirkan sosok-sosok baru. Tentang arah tujuan masa depan
mereka tergantung role model yang mereka lihat. Sudah seberapa jauh kita
memberikan tauladan yang baik untuk generasi yang lebih muda sangat menentukan
keberhasilan generasi berikutnya. Termasuk bagaimana kita mempersiapkan mereka
untuk menggantikan posisi kepemimpinan selanjutnya. Mempersiapkan ritual
kaderisasi yang matang dengan memilih kader-kader yang tepat untuk memegang tongkat
kepemimpinan yang akan membawa nasib generasi berikutnya. Karena pada
hakikatnya, kita takkan bisa melakukan semua yang kita mau, ada batas waktu dan
usia. Maka satu-satunya cara adalah mempersiapkan dan mempercayakan kepada
generasi berikutnya untuk menjaga agar visi besar yang kita bangun tetap hidup
selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar