Senin, 22 Agustus 2016

Kondisi Pendidikan di Indonesia


“Our greatest fear is not that we are inadequate. Our deepest fear is that we are POWERFUL BEYOND MEASURE. It is our light, not our darkness, that frightens us. We ask ourselves, who am I to be brilliant? Gorgeous, talented, and fabulous? Actually, who are you not to be? We were born to make manifest the glory of God within us. It’s in everyone. It’s just not in some of us, and as we LET OUR OWN LIGHT SHINE, we unconsciously give other people permission to do the same.” – Marriane Williamson.
Pertanyaan besar tentang bagaimana kita bisa berkontribusi bagi negeri. Tentang bagaimana kita bisa membuat perubahan besar. Tentang bagaimana kita bisa mewujudkan cita-cita besar negeri ini. Jawabannya adalah pendidikan. Namun jika melihat kondisi pendidikan negeri ini rasanya masih sangat nan jauh di mata sebuah keberhasilan. Sebuah kesimpulan dari sebuah jawaban mayoritas yang menganggap bahwa sekolah adalah penjara.
Sebuah penelitian telah mengungkap bahwa indeks kebahagiaan seseorang telah keluar/lulus dari sekolahnya sama dengan orang yang keluar dari penjara. Ada tiga tipe individu ketika berada di ruang kelas. Yang pertama Tipe TAHANAN, orang yang memiliki sifat ini merasa bahwa ketika dirinya berada di ruang kelas yang ia pikirkan adalah kapan ia bisa keluar. Jasadnya ada di dalam ruang kelas, namun jiwanya berada di tempat lain tidak berusaha menghadirkan diri.
Yang kedua Tipe BURONAN, sifat orang yang satu ini memiliki sifat yang unik dan paling di cari-cari. Mengikuti seminar yang kebetulan diselenggarakan di sekolah untuk menghindari pelajaran matematika di kelas. Berada di suatu tempat untuk lari dari tempat yang seharusnya ia berada. Yang ketiga Tipe BEBAS, ya bebas! Merasa bahwa belajar adalah sebuah kebutuhan. Tipe yang satu ini merasa tidak ada tekanan atau jenuh ketika berada di ruang kelas. Ketenangan hati dan jiwa dimiliki oleh karakter ini.
Andai saja jika seluruh pelajar di negeri ini bisa menjadi orang yang BEBAS, maka segala sesuatu yang mereka kerjakan akan menemukan titik keberhasilan, termasuk masa depan pendidikan negeri kita. Bagaimana caranya untuk menjadi orang yang bebas? EMPTY YOUR CUP. Bagaimana mungkin kita bisa mengisi gelas yang terisi penuh? TEACHABLE. Dapat diajar, apa yang diperintahkan maka sudah wajib untuk di patuhi, tentunya dengan kesadaran baik buruk perintah yang diminta.

Langkah selanjutnya adalah ACTION. Ketakutan terbesar kita bukan karena kita tidak mampu, tapi karena kita memiliki kekuatan di luar batas. “Knowing is Nothing, but Applying What You Know is Everything.” –Bruce Lee. Untuk membangun peradaban tak hanya dibutuhkan sebuah materi. Namun kesadaran untuk bergerak selangkah lebih maju. Pendidikan di negeri kita bukan sekadar sekolah dan kampus. Pendidikan Indonesia adalah sebuah cita-cita, manifestasi kehidupan yang pantas diperjuangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar