“Our
greatest fear is not that we are inadequate. Our deepest fear is that we are
POWERFUL BEYOND MEASURE. It is our light, not our darkness, that frightens us.
We ask ourselves, who am I to be brilliant? Gorgeous, talented, and fabulous? Actually,
who are you not to be? We were born to make manifest the glory of God within
us. It’s in everyone. It’s just not in some of us, and as we LET OUR OWN LIGHT SHINE,
we unconsciously give other people permission to do the same.” – Marriane Williamson.
Pertanyaan
besar tentang bagaimana kita bisa berkontribusi bagi negeri. Tentang bagaimana
kita bisa membuat perubahan besar. Tentang bagaimana kita bisa mewujudkan
cita-cita besar negeri ini. Jawabannya adalah pendidikan. Namun jika melihat
kondisi pendidikan negeri ini rasanya masih sangat nan jauh di mata sebuah
keberhasilan. Sebuah kesimpulan dari sebuah jawaban mayoritas yang menganggap
bahwa sekolah adalah penjara.
Sebuah
penelitian telah mengungkap bahwa indeks kebahagiaan seseorang telah
keluar/lulus dari sekolahnya sama dengan orang yang keluar dari penjara. Ada
tiga tipe individu ketika berada di ruang kelas. Yang pertama Tipe TAHANAN, orang
yang memiliki sifat ini merasa bahwa ketika dirinya berada di ruang kelas yang
ia pikirkan adalah kapan ia bisa keluar. Jasadnya ada di dalam ruang kelas,
namun jiwanya berada di tempat lain tidak berusaha menghadirkan diri.
Yang
kedua Tipe BURONAN, sifat orang yang satu ini memiliki sifat yang unik dan
paling di cari-cari. Mengikuti seminar yang kebetulan diselenggarakan di
sekolah untuk menghindari pelajaran matematika di kelas. Berada di suatu tempat
untuk lari dari tempat yang seharusnya ia berada. Yang ketiga Tipe BEBAS, ya
bebas! Merasa bahwa belajar adalah sebuah kebutuhan. Tipe yang satu ini merasa
tidak ada tekanan atau jenuh ketika berada di ruang kelas. Ketenangan hati dan
jiwa dimiliki oleh karakter ini.
Andai
saja jika seluruh pelajar di negeri ini bisa menjadi orang yang BEBAS, maka
segala sesuatu yang mereka kerjakan akan menemukan titik keberhasilan, termasuk
masa depan pendidikan negeri kita. Bagaimana caranya untuk menjadi orang yang
bebas? EMPTY YOUR CUP. Bagaimana mungkin kita bisa mengisi gelas yang terisi
penuh? TEACHABLE. Dapat diajar, apa yang diperintahkan maka sudah wajib untuk
di patuhi, tentunya dengan kesadaran baik buruk perintah yang diminta.
Langkah
selanjutnya adalah ACTION. Ketakutan terbesar kita bukan karena kita tidak
mampu, tapi karena kita memiliki kekuatan di luar batas. “Knowing is Nothing,
but Applying What You Know is Everything.” –Bruce Lee. Untuk membangun
peradaban tak hanya dibutuhkan sebuah materi. Namun kesadaran untuk bergerak
selangkah lebih maju. Pendidikan di negeri kita bukan sekadar sekolah dan
kampus. Pendidikan Indonesia adalah sebuah cita-cita, manifestasi kehidupan
yang pantas diperjuangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar